Sistem sudah hidup.

Service aktif. Endpoint sehat. WordPress menjawab. Semua lampu hijau.

Tapi tombol Publish masih dipandangi seperti tombol peluncur rudal.

Katanya harus hati-hati.

Benar. Hati-hati itu penting. Masalahnya, di beberapa proyek teknologi, kehati-hatian sering berubah bentuk menjadi ritual organisasi.

Pertama diperiksa apakah sistemnya berjalan.

Setelah berjalan, diperiksa apakah pemeriksaannya sudah diperiksa.

Setelah itu dibuat rapat untuk menentukan siapa yang berwenang menyatakan bahwa hasil pemeriksaan tadi memang boleh dianggap sebagai hasil pemeriksaan.

Sementara itu, pengguna hanya melihat satu hal:

Kontennya belum tayang.

Ekspektasinya sederhana. Mesin menerima bahan, membuat tulisan, lalu mengirimkannya ke website.

Realitasnya lebih artistik. Mesin sudah selesai bekerja, tetapi manusianya masih mendiskusikan warna map yang akan dipakai untuk menyimpan hasil kerja mesin.

Dalam bahasa operasional, SLA tetap berjalan.

Dalam bahasa rapat, semuanya masih “sedang dikoordinasikan”.

Lalu muncullah ticket.

Ticket pertama untuk memeriksa sistem.

Ticket kedua untuk menanyakan perkembangan ticket pertama.

Ticket ketiga dibuat karena ticket kedua belum mendapat jawaban.

Pada titik ini, sistem otomatisnya justru sudah menjadi bagian paling waras di ruangan.

Tentu saja kontrol tetap diperlukan. Konten tidak boleh langsung dilepas tanpa pemeriksaan. Klaim harus masuk akal. Sumber harus jelas. Tulisan yang ngawur harus ditahan.

Tetapi quality control seharusnya menjadi pagar pengaman, bukan lahan parkir permanen.

Sistem yang baik bukan sistem yang tidak pernah membuat kesalahan.

Sistem yang baik adalah sistem yang dapat mendeteksi kesalahan, menghentikannya, memperbaikinya, lalu tetap bergerak.

Karena proyek teknologi tidak dinilai dari banyaknya diagram arsitektur.

Proyek dinilai dari satu pertanyaan yang sangat tidak sopan:

Sudah dipakai atau belum?

Hari ini tombol Publish akhirnya ditekan.

Tidak ada seremoni. Tidak ada gunting pita. Tidak ada panitia khusus.

Hanya satu artikel yang benar-benar keluar dari pipeline dan sampai ke website.

Kadang kemajuan memang tidak terlihat seperti transformasi digital.

Kadang bentuknya hanya sebuah status kecil:

Published.

Dan di suatu tempat, sebuah rapat kehilangan alasan untuk dijadwalkan.

Kalau bagian ini kerasa familiar banget...
...kemungkinan lo emang korbannya, gengs. Tenang, lo nggak sendirian. Kita kumpulin pola-pola beginian tiap minggu, terus kita bocorin langsung ke email lo — gratis, nggak pakai drama rapat.
Nggak akan di-spam. Kita juga males baca email numpuk-numpuk.

Tinggalkan Balasan