Opening Lucu\nSiapa yang nggak bingung kalau AI di kantor jadi bidadari, tapi data inputnya masih pakai Excel yang bisa crash kalau ada 1000 baris? Seperti ponsel modern yang masih dipakai buat main game catur, jelas keren tapi data di dalamnya? Liat aja si AI, berani berpikir cepat, tapi data di back-end? Masih pakai cara baca spreadsheet dari 1998.
\n\n\n\nFakta Sumber\nPada kenyataannya, AI itu cuma alat. Masalahnya ada di data yang diinput. Kita sering puji AI karena bisa analisis data, tapi data itu sendiri masih diproses pakai spreadsheet yang bisa diubah-ubah oleh siapa aja. Bukan karena AI nggak bisa, tapi sistemnya yang masih bingung antara manual dan otomatis. Seperti manusia yang bisa berbicara, tapi kalimatnya jadi bacaan buku lama.
\n\n\n\nSatire IT\nSistem ini kayak jasa pelayanan lama yang masih dipakai meski ada teknologi baru. Excel itu jadi ‘backup’ yang nggak perlu, tapi jadi ‘sumber data’ yang diandalkan. Bukan karena nggak ada yang mau update, tapi vendor sistem bilang, ‘Ini sudah stabil, jangan ganggu!’. Padahal, si AI bisa baca data, tapi data itu sendiri jadi ‘kendaraan lama’ sambil menunggu sistem baru.
\n\n\n\nPelajaran Sistem\nKalau AI itu kendaraan baru, data harusnya jadi jalan raya yang bisa diakses semua. Tapi kenyataannya, data masih dipakai jalan kaki. Jadi, pelajaran sistemnya: jangan biarkan teknologi baru jadi ‘dekorasi’ sementara data masih dipakai cara lama. Jika data nggak bisa diakses dengan cepat, AI juga nggak bisa bekerja maksimal.
\n\n\n\nPunchline Closing\nJadi, kalau kamu nggak mau AI jadi bidadari kantor, cek dulu data kamu. Jangan biarkan spreadsheet jadi ‘bukti kekuatan sistem yang masih berjalan’. Karena siapa tahu, mungkin suatu hari Excel itu jadi jasa pelayanan lama yang bisa diupgrade, tapi sekarang? Masih jadi jasa pelayanan lama yang nggak bisa diubah. Cek sistemmu, bukan? Bukan karena aku ngajak beli software, tapi karena sistemmu mungkin sedang baca buku lama sambil menunggu teknologi baru.
\n